Selasa, 28 Februari 2012

0 karya syeich Abdul Qadir Al Jaelani

Sumber :<blink>http://www.kiosislami.com/karya-syeikh-abdul-qodir-al-jaelani,68.html</blink>

Bekal Yang Cukup Menuju Allah - Terjemah Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq 'Azza wa Jalla – Syeikh Abdul Qadir Jailani

Mendirikan ibadah adalah kewajiban bagi setiap muslim/muslimah, sebab ibadah tidak hanya bermakna sebagai pengabdian makhluk pada Sang Khalik, tetapi sekaligus mampu menumbuhkan kecerdasan spiritual dan emosional bagi pelakunya. Itulah sebabnya para ahli ibadah selalu hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan.


Namun sekarang ini, sungguh sangat langka muslim/muslimah yang mampu mereguk manfaat dari ibadah-ibadahnya sendiri. Shalat, puasa, zakat, haji, wudhu, thaharah, dll., seperti tak berarti apa-apa lagi bagi kehidupannya. Mengapa itu bisa terjadi?


Untuk mengatasi kegagalan meraih manfaat-manfaat ibadah tersebut,  bacalah kitab monumental karya tokoh sufi paling disegani bergelar Sultonul Auliya, Syekh Abdul Qodir al-Jailani, pendiri Tarekat al-Qodiriyah. Dengan gaya tutur yang sejuk dan kaya hikmah, beliau menyingkapkan pada kita segala rahasia maha dahsyat di balik segenap amal ibadah kita.


Siapa pun Anda, dengan membaca buku ini , insya Allah akan memperoleh panduan praktis bagaimana cara beribadah yang khusyuk, agar Anda bisa segera merasakan sejuknya telaga cinta dan air mata sang kekasih Allah.

Fiqih Tasawuf - Syeikh Abdul Qadir Jaelani

Inilah sebuah karya yang komprehensif tentang fiqih, etika, dan tasawuf dalam Islam. Sesuai dengan judul aslinya, ‘al-Ghunyah (Kekayaan)’, buku ini kaya dengan pesan-pesan religius Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani. Memang, tak ada buku yang cukup “kaya” untuk menggambarkan kekayaan pengetahuan Allah SWT. Namun, buku ini bisa dijadikan acuan utama bagi mereka yang ingin mempelajari Islam secara komprehensif.

Buku ini, diawali dengan prosesi ke-Islam-an, yakni beberapa hal yang harus dilakukan ketika seseorang hendak masuk Islam. Dalam bagian berikutnya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memaparkan aspek akidah, berbagai konsep keimanan yang harus diyakini dan diketahui oleh setiap muslim. Berturut-turut kemudian Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani memaparkan aspek ibadah, muamalah, dan doa-doa.

Setiap aspek dalam Islam harus senantiasa disertai dengan etika, baik dalam hubungan vertikal (Hamba – Allah) maupun hubungan horizontal (hamba – hamba, sesama manusia). Menurutnya, etika (akhlak) tidak bisa dilepaskan dari semua aspek kehidupan manusia.

Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani selalu mendasarkan pendapat-pendapatnya pada nashsh-nashsh keagamaan yang valid. Bila tidak mendapatkan dalil dari Al-Qur’an dan Hadits, Syaikh menyandarkan pendapatnya pada riwayat dari para sahabat dan tabi’in yang terpercaya.


Menangkis Bisikan Jahat – Syaikh Abdul Qodir Al Jailani

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dalam buku ini, mengemukakan bisikan-bisikan (khawâthir) yang mungkin muncul di dalam hati manusia, di antaranya: Bisikan dari diri rendah (nafs), bisikan hawa nafsu (hawâ), bisikan setan, bisikan malaikat, dan bisikan Tuhan. Jika kita menolak bisiskan dari diri rendah, bisikan dari hawa nafsu, dan bisikan setan, maka bisikan dari malaikat akan datang kepada kita. Dan akhirnya akan datang bisikan dari Tuhan Kebenaran. Inilah tahap yang terakhir.

“Apabila hatimu sehat dan baik, ia akan selalu bersikap kritis untuk menanyai setiap bisikan yang datang: Bisikan macam apa engkau ini? Dari sumber mana engkau datang? Mana bisikan itu akan mengatakan: Aku adalah bisikan anu dan anu ...”

Di dalam nasihatnya, beliau juga mengingatkan: “Wahai anakku terkasih! Aku nasihatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah dan senantiasa takut untuk menyakiti hati-Nya. Aku juga menasihatkan kepadamu agar setiap saat engkau siap memenuhi kewajibanmu kepada kedua orangtuamu dan kepada orang-orang tua (masyâ’ikh), sebab Allah memandang dengan penuh keridhaan kepada hamba-Nya manakala memenuhi kewajiban itu. Engkau harus menjadi pengawal setia Kebenaran, baik ketika engkau sendirian maupun sedang berada bersama orang banyak.”

Percikan Cahaya Ilahi – Petuah Petuah Syaikh Abdul Qadir Jailani

Ketika hati diselimuti kegelapan, hanya 'percikan cahaya Ilahi' sajalah yang meneranginya. Ketika mata-hati telah dibutakan oleh nafsu dan hasrat telah menguasai jiwa, tak ada lagi yang bisa ditunggu selain kehancuran. Hati hanya bisa dibersihkan dengan cahaya tauhid. Jiwa akan merdeka bila selalu mengesakan Allah. Jika hati telah menjadi suci dan jiwa terbebaskan, maka keduanya akan terbang menuju ke haribaan Allah dan siap memperoleh kemenangan dari Ilahi (al-Fath ar-Rabbani) dan limpahan cahaya dari Tuhan yang Maha Pengasih (al-Faidh ar-Rahmani)

"Jika kau masih takut dan berharap pada manusia, maka dia menjadi tuhanmu. Jika kau masih menghadapkan hatimu pada harta dunia, maka kau adalah budaknya, dan dia menjadi tuhanmu. Tak ada cinta yang paling abadi, kecuali cinta seorang hamba kepada Allah. Seorang pencinta tak akan meninggalkan kekasihnya, baik saat suka maupun saat derita."

Buku yang berisi petuah-petuah dari pendiri dan pemuka tarekat Qadariyah ini, Syaikh Abdul Qadir Jailanim sangat penting bagi para penempuh jalan ruhani (salik) yang selalu mengharapkan kerindhaan Allah. Petuah-petuah dalam buku ini bisa dijadikan sebagai bimbingan yang sangat berharga dalam menapak jalan sufi, mencapai kebeningan hati, dan meniti tangga pengetahuan tentang Ilahi.

Perisai Ghaib - Shalawat, Dzikir, Doa-doa, dan Amalan

Tidak seperti karya-karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani lainnya, buku ini tidak berbicara mengenai kewaspadaan terhadap dunia, tahap-tahap perjalanan spiritual atau keharusan menerima ketetapan Allah swt. Kali ini, Syaikh Agung lebih banyak “berbicara” melalui shalawat, doa, wirid dan hizib sebagai perisai ghaib kaum mukmin. Diantaranya:

- Shalawat yang beliau beri nama Basya’irul Khairat (Kabar gembira mengenai berbagai kebaikan)
- Doa Al-Isti’anah (Doa Tawassul kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)
- Wirid Da’watul Jalalah
- Rijalul Ghaib (Salam Syaikh kepada para wali Allah di alam ghaib)
- Doa untuk menghilangkan rasa letih
- Wirid subuh
- Hizbun Nashr (Hizib untuk memohon pertolongan dalam menghadapi musuh)

Selain hal di atas, ada sebuah bagian dari buku ini yang amat jarang kita jumpai pada karya-karya beliau lainnya yang menjadikan buku ini amat istimewa. Bagian itu adalah Risalah al-Ghautsiyyah, yakni sebentuk dialog antara Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dengan Allah swt melalui ilham qalbi atau kasyf ma’nawi. Di situ Allah menerangkan berbagai hal tentang rahasia alam Nasut, malakut, jabarut dan lahut, juga mengenai hakikat kefakiran, surga dan neraka, kedekatan dengan Allah, puasa, shalat dan mengenai hamba-hamba Allah yang didekatkan kepada-Nya.


Rahasia Besar Sang Guru Besar – Syekh Abdul Qadir Al Jaelani

Diantara hati manusia terdapat hati yang menyala karena rasa cinta kepada Allah swt, membara oleh cahaya-Nya, dan mengambil cahaya pengetahuan dari Rasulullah saw yang dibangun dengan dua pilar, pertama: hukum-hukum Allah dan kepatuhan kepadaNya berdasarkan tuntunan Rasulullah saw, dan kedua, rahasia-rahasia dan saripati hukum-hukum tersebut, yaitu roh keikhlasan dan cahaya yang mengantarkan kepada keindahan Allah swt, mengenalkan kesempurnaan, keagungan, dan kekuasaan-Nya.

Hari yang menyala dan membara itu adalah hati para sufi sejati yang telah menempuh jalan wushul (persatuan) dengan Allah dengan cara mengibarkan diri kepada perintah-perintahNya dan mematuhi semua perintah RasulNya. Dengan demikian tasawwuf bukan penyimpangan dan syari’at dan bukan pula pelanggaran terhadap larangan-larangan, melainkan laksana jiwa bagi tubuh.

Untuk sampai kepada Allah swt, harus melewati tiga alam: alam malakut, alam jabarut dan alam lahut. Masing-masing alam memiliki cara pencapaian, roh, dan eksistensi sendiri. Alam yang dicapai oleh seseorang dan kedekatannya dengan Allah berkat keikhlasan serta dzikirnya akan sebanding dengan awbah (beranjak dari diri sendiri menuju Allah) dan taubah (beranjak dari dosa-dosa besar kepada kepatuhanya).

Oleh karena itu, rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalam jiwa yang merdeka dan hati yang suci setiap sufi yang sejati dengan Tuhanya adalah berbeda-beda.

Buku ini berisi penjelasan tentang jalan wushul (sampai/bersatu) dengan Allah bagi orang yang menginginkannya, juga tentang misteri yang tersembunyi di dalam hati para sufi sejati yang suci serta cahaya yang menyala di dalam jiwa mereka yang merdeka.

Raihlah Hakikat, Jangan Abaikan Hakikat - Adab Perjalanan Spiritual Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Dalam buku ini pembaca akan menemukan bahwa Imam al-Jailani r.a. senantiasa menekankan satu prinsip yang paling mendasar, yakni bahwa puncak tujuan hanya bisa dicapai melalui jalan syariat. Dengan demikian, hukum-hukum syariat dan akidah kaum salaf, dalam pandangannya, merupakan lubuk sekaligus ufuk tasawuf.

Menurut Imam al-Jailani seseorang bisa disebut sebagai ahl-al-haq wa al-wusul hanya jika lahirnya berpegang teguh pada syariat yang benar, baik perintah maupun larangan dan batinnya senantiasa bertindak sesuai bashirah. Dengan bashirah itulah ia senantiasa melihat teladannya, yakni Rasulullah saw, sehingga pada posisinya kemudian, Nabi saw menjadi perantara antara Allah Ta’ala dengan ruhani serta jasmaninya. Dari keadaan ini ia akan mendapatkan petunjuk bagi dirinya dan bagi murid-murid yang menempuh jalan spiritual sehingga mereka melakukan perjalanan spirtualnya tidak dalam keadaan buta. Pada posisi inilah terdapat tanda-tanda keistimewaan yang hanya bias ditemukan oleh sedikit orang


Renungan Sufi – Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani

Buku ini berisi 62 petuah Syekh Abdul Qadir Al Jaelani yang menyajikan tema-tema spiritual yang sangat penting. Secara garis besar, ceramah-ceramahnya terfokus pada dua hal: pertama, makrifat kepada Allah. Kedua, Syariat sebagai jalan utama.

Untuk mencapai makrifat kepada Allah, seseorang harus menempuh jalan syariat, yaitu melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Seseorang hendaknya menyucikan jiwanya dengan penuh kesadaran dalam rangka menunaikan tauhid yang mutlak. Ia hendaknya bersikap wara’, zuhud terhadap dunia, bahkan zuhud terhadap diri sendiri, sabar dan ikhlas terhadap qadha’ dan qadar-Nya yang baik ataupun yang buruk, serta merasa diawasi oleh Allah, beriman dan bertaqwalah dan hanya menggantungkan segalanya kepada Allah Azza wa jalla.

Karya Syekh Abdul Qadir Al Jaelani ini akan membuka tabir dan misteri kehidupan sesungguhnya yang kita jalani. Bacalah dengan hati yang khusuk dan hening, niscaya akan kita temukan kedalaman ajaran beliau dalam membimbing kita menemukan hakikat diri.

Sirrul Asrar, Hakikat Segala Rahasia Kehidupan – Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Seperti apakah rahasia yang ada di balik rahasia? Mungkinkah manusia menyingkap rahasia dan yang di balik rahasia? Bagi para hamba Allah sejati, tutur Syekh Abdul Qadir, tak ada lagi rahasia karena semua tabir telah terangkat. Mereka telah mencapai maqam penyaksian (musyahadah).


Sirr al-Asrâr—judul asli buku ini—hadir untuk menuntun kita menapaki jalan-jalan yang sunyi menuju rahasia dan yang di balik rahasia. Syekh Abdul Qadir membawa kita menelusuri jejak-jejak Tuhan yang terhampar di alam semesta dan di dalam diri kita; mengarahkan kita menuju kedalaman hakikat dan menyatu dengan Sang Hakikat. Ajaran-ajaran dasar Islam—shalat, puasa, zakat, dan haji—dikupas kedalaman maknanya dan keeratan hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari.

Disertai panduan shalat-shalat sunnah dan zikir-zikir penyejuk kalbu, buku ini akan memandu kita meraih hakikat kelembutan, mencapai keikhlasan, dan menghampiri Sang Kekasih Yang Mahasuci. Prinsip-prinsip spiritualitas Islam diulas secara lugas. Meski banyak ulama yang menulis karya-karya sufistik, Syekh Abdul Qadir al-Jailani memaparkan jalan ruhani ini secara lebih gamblang dan dapat dicerna oleh khalayak luas.


Karena itu pula buku ini dipandang sebagai jembatan antara dua karyanya yang terkenal, Ghunyat al-Thâlibîn (Bekal Para Pencari), yang merupakan panduan menjadi muslim yang saleh, dan Futûh al-Ghayb (Penyingkapan Kegaiban), ceramah-ceramahnya mengenai tema-tema spiritual. Tanpa melalui Sirr al-Asrâr, orang takkan mampu memahami Futûh al-Ghayb. Sirr al-Asrâr merupakan gerbang menuju kota ilmu tersebut.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Kisah Hidup Sultan Para Wali dan Pesan Yang Menghidupkan Hati

Buku ini menguntai petikan nasihat-nasihat Syekh Abdul Qadir Al Jailani yang terekam dalam karya beliau: al-Fath al-Rabbani dan Futuh al-Ghayb. Isinya menyapa langsung sanubari kita. Laksana taman hikmah, buku ini bisa Anda kunjungi kapan saja dan di halaman mana saja.


Sederhana tetapi mengena. Begitulah aroma keunikan pesan, dialog, dan perumpamaan dalam buku ini. Syekh Abdul Qadir al-Jailani bukan sekadar karamah yang dipuja. Ia justru menjadi lambang kejujuran dan ilmu pengetahuan.

Al-Jailani dihormati oleh ulama dan para zahid pada masanya. Ia memiliki banyak keutamaan dan karamah. Ia juga memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu makrifat yang sesuai dengan sunnah.

Tafsir Al-Jaelani , Syekh Abdul Qadir Jaelani

Pembuka Pintu Ilahi dan Kunci-Kunci Kegaiban yang Menjelaskan Kalimat-Kalimat Al-Qur'an Beserta Hikmah-Hikmahnya.

Ini bukanlah tafsir pada umumnya - sebagaimana yang sudah pernah Anda baca, kitab ini lebih merupakan inspirasi-inspirasi dan isyarat-isyarat yang mendenyutkan kehidupan, ruh, dan gerakan yang mengalir dari hati seorang hamba yang selalu berhubungan dengan Allah. perasaan itu menguasai seluruh gerakan anggota tubuh dan hatinya yang diam, yang merasa tenang di sisi Allah. Inilah ekspresi tentang berbagai macam perasaan, emosi, gerakan ketenangan, inspirasi, isyarat, dan limpahan cahaya.

"Wahai saudara-saudaraku, semoga Allah mengekalkanmu; janganlah kalian mencelaku karena sesuatu yang aku miliki dan jangan pula merendahkanku karena sesuatu yang menjadi tujuanku. Sebab di antara bentuk sunnatullah adalah menampakkan sesuatu yang tersamar dalam ilmu-Nya dan mengeluarkan sesuatu yang tersembunyi dalam kegaiban-Nya.

Allah berhak melakukan apa pun yang dia kehendaki dan menghukumi sesuatu yang Dia inginkan. Tiada daya maupun kekuatan kecuali milik-Nya, dan kenikmatan apa pun yang berada di tanganmu, maka itu berasal dari-Nya, Dialah yang mengatakan kebenaran dan Dia pula yang memberi petunjuk menuju jalan yang lurus"  (Syekh Abdul Qadir Jaelani)

Terjemah Kitab Fathur Rabbani – Syekh Abdul Qadir Jaelani

Pencerahan jiwa, ketulusan kata-kata, kekayaan makna, akan anda temukan di dalam buku ini. Sebuah maha karya wali Allah, Sultonul Auliya, Al Imam Syaikh Abdul Qadir Jailani. Dengan membaca dan merenungkannya Anda akan mendapatkan pelajaran berharga tentang nilai-nilai pensucian jiwa. Setelah itu, mudah-mudahan jiwa menjadi tercerahkan, sehingga jiwa ini memperoleh manfaat berupa kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan dalam mengarungi hidup di dunia.

Buku ini diterjemahkan dari salah satu karya As Syaikh Abdul Qadir Jaelani yaitu Kitab Fathul Rabbani. Buku ini telah diterjemahkan ke banyak bahasa dan telah dibaca jutaan orang di seluruh dunia. Buku ini menjadi pegangan bagi orang-orang yang ingin hatinya tenang dan damai, bagi orang yang ingin merasakan nikmatnya kebaikan.

Wasiat Terbesar Sang Guru Besar – Syekh Abdul Qadir Al Jaelani

Sang pemilik ma`rifah (pengetahuan keagamaan) dan thariqah (jalan menuju kebahagiaan) ini adalah sosok paling dominan di jajaran para auliya. Sultan al-Auliya` yang disandangnya adalah buah keimanan dan keilmuan tertinggi pada dirinya. Mengapa tidak, tanda-tanda kewaliannya telah tampak semasa dalam penyusunan ibunya.

Jejak hidup beliau memperlihatkan sebuah kemuliaan seorang hamba yang tidak hanya `abid tetapi juga alim dalam tafsir, hadits, fiqih, usul fiqih, nahwu, dan lain-lain. Tak diragukan lagi, beliau lahir dan besar sebagai guru besar dimasanya juga guru besar kita semua.

Karya `emas` yang langka ini sangat pantas dimiliki, didalamnya sarat akan pengetahuan dan petunjuk-petunjuk kebenaran yang bertumpu pada fiqih dan syari`ah dan tasawuf yang bersandar pada pengalaman dan kesadaran rohani. Lembaran-lembaran wasiat ini akan memandu kita dalam melaksanakan legalitas titah keagamaan, sekaligus mengisi ruang inti batin. Kesemuanya bertujuan untuk mewujudkan kehidupan agama yang ideal.

“Makluk adalah tabir penghalang bagi dirimu, dan dirimu adalah tabir penghalang bagi Tuhammu. Selama kamu melihat makhluk, selama itu pula kamu tidak akan dapat melihat dirimu dan selama kamu melihat dirimu, selama itu pula kamu tidak akan dapat melihat Tuhanmu” Syekh Abdul Qodir Jaelani

0 komentar:

Poskan Komentar

 
The Republic of Indonesia Blogger